adsense

TOP MATERI Interaksi Spasial Desa Dan Kota (Definisi, Pola, Struktur)

Haii Saudara GeniuSmart.. Akhirnya admin bisa ngepost lagi tentang "TOP MATERI Interaksi Spasial Desa Dan Kota (Definisi, Struktur, Pola)" Semoga materi yang satu ini bermanfaat bagi kita semua. Bisa di Bookmark terlebih dahulu bagi yang merasa belum bermanfaat :D hehehe.. yuk langsung simak. GeniuSmart  ( Let's Genius And Smart For Everything)

TOP MATERI Interaksi spasial desa dan kota (definisi, Pola, struktur)
Ilustrasi Interaksi Spasial Desa Dan Kota. (sumber : www.suaradesa.timesindonesia.co.id)


A. POLA KERUANGAN DESA

1. Pengertian Desa

Desa merupakan pemukiman yang lokasinya berada di luar kota yang sebagian besar penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani atau nelayan. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 6 Tahun 2014, desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal-usul, dan atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

         Desa pada awalnya dihuni oleh suatu keturunan yang memiliki nenek moyang yang sama. Jika suatu desa penuh maka masalah ekonomi akan bermunculan beberapa keluar dari desa tersebut. Menurut Bintarto (1983) terdapat tiga unsur desa, yaitu daerah, penduduk, dan tata kehidupan.

a. Daerah, yang meliputi aspek lokasi, luas, dan batas wilayah.
b. Penduduk, meliputi jumlah, pertambahan, kepadatan, penyebaran, dan mata pencahariaan penduduk.
c. Tata Kehidupan, meliputi pola tata pergaulan dan ikatan-ikatan pergaulan warga desa sebagai usaha penduduk untuk mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan.


2. Pola Persebaran Desa 

Pola persebaran desa dipengaruhi oleh beberapa faktor geografis wilayahnya. Empat faktor geografis yang menentukan persebaran desa, yaitu sebagai berikut. 

a. Topografi, menyangkut letaknya secara fisiografis, seperti jauh dekatnya jalan raya, sungai, rawa, pegunungan, pantai, dan kota.
b. Iklim, bergantung pada ketinggian tempat. misalnya kaliurang atau Dieng merupakan tempat yang memiliki ketinggian di atas 1000 meter diatas permukaan laut (mdpl) sehingga memiliki iklim yang sejuk yang cocok untuk tempat peristirahatan.
c. Jenis Tanah, memengaruhi keberhasilan dalam bertani. Misalnya tanah berkapur sangat cocok untuk budidaya jambu mente, tanah berlempung cocok untuk pertanian lahan basah dan lahan kering.
d. Air, manusia akan mendekati sumber air sebagai sumber kehidupan. Nama-nama tempat di Jawa Barat banyak yang berasal dari Ci yang artinya air. 

        Menurut Daldjoeni (1996) bentuk dan pola persebaran desa dapat dibedakan atas bentuk desa yang menyusuri sepanjang pantai, bentuk desa yang terpusat, bentuk desa yang memanjang (linier) di dataran rendah, dan bentuk desa yang mengelilingi fasilitas tertentu. 

A. Bentuk Desa Yang Menyusuri Pantai

Di sepanjang pinggiran pantai yang landai terdapat desa yang sebagian besar mata pencaharian penduduknya sebagai nelayan. Perkembangan desanya memanjang mengikuti garis pantai yang merupakan tempat melabuhkan perahu nya atau mendekati tempat penjualan ikan. Selain sebagai nelayan penduduk desa pantai ini juga bermata pencaharian sebagai petani tambak atau kelapa

interaksi spasial desa dan kota www.geniusmart.net



B. Bentuk Desa Yang Terpusat

Bentuk Desa yang terpusat merupakan bentuk perkamBentupungan yang berkelompok, biasannya terdapat di daerah pegunungan. Penduduknya berasal dari suatu ikatan keluarga sehingga sifat gotong royongnya masih tinggi. Jika penduduknya bertambah maka perkembangan desanya ke segala arah dengan tidak terencana. Pusat-pusat kegiatan penduduknya bergeser mengikuti arah perkembangan desa.


spasial desa dan kota www.geniusmart.net

C. Bentuk Desa yang Memanjang (linier) di Dataran Rendah

Bentuk desa yang memanjang di dataran rendah pada umumnya bentuk pemukiman penduduk sejajar degan jalan raya atau sungai yang menembus desa yang bersangkutan. Jalan raya atau sungai ini menghubungkan antara satu desa dengan desa lainnya. Bentuk desa seperti ini memungkinkan terjadinya pemekaran desa sehingga lahan pertanian di sepanjang jalan dapat berubah menjadi pemukiman baru. Untuk menghubungkan daerah pemekaran maka dibuatkan lingkaran jalan ring road agar kawasan pemukiman baru tidak terpencil.

spasial desa dan kota www.geniusmart.net


D. Bentuk Desa yang Mengelilingi Fasilitas Tertentu

Bentuk desa seperti ini biasanya terdapat di dataran rendah misalnya yang mengelilingi danau sebagai sumber air fasilitas kesehatan, pendidikan serta pusat pemerintahan. Arah pemekaran wilayahnya berkembang ke segala arah.
     
E. Pola Persebaran Desa menurut Alvi L. Betrand

  • Pola mengelompok pada daerah pertanian
  • pola pasar atau desa terbuka
  • pola memanjang
F. Pola Persebaran Desa Menurut Paul H Landis
  • The farm village tipe
  • the nebulans farm tipe
  • the arranged isolated farm tipe
  • pure isolated tipe

G. Pola persebaran menurut Bintarto 
  • Bila memanjang mengikuti jalan raya
  • Pola memanjang sungai 
  • Pola radial 
  • Pola tersebar
  • Pola memanjang pantai
  • Pola memanjang sejajar jalan kereta api

3. Klasifikasi Desa

1Menurut Daldjoeni (1996) kegiatan pokok atau kegiatan yang menonjol, desa dibedakan atas : 

a. Desa Agrobisnis
           Desa Agrobisnis merupakan  desa yang kegiatan penduduknya melakukan pengolahan dan distribusi hasil pertanian. Komoditas pertanian yang diolah dan didistribusikan antara lain tanaman palawija, hasil hutan, tanaman hortikultura, dan peternakan. 

b. Desa Agroindustri 
          Desa Agroindustri merupakan desa yang penduduknya melakukan kegiatan pengolahan bahan-bahan hasil pertanian (hasil kehutanan) menjadi barang yang langsung dikonsumsi atau setengah jadi, seperti industri makanan, minuman, dan pakaian dari kulit. 

c. Desa Pariwisata 
          Desa Pariwisata merupakan desa yang memiliki objek wisata, sebagai komoditas ekonomi seperti pemandangan alam yang indah, objek wisata sejarah. 

d. Desa Industri Nonpertanian 
           Desa Industri Nonpertanian merupakan desa yang melakukan kegiatan industri seperti industri kertas, industri bahan galian. 

2. Berdasarkan kemampuannya desa dibedakan atas : 

a. Desa Swadaya (tradisional)
         Desa Swadaya yaitu desa sebagian besar masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. 

b. Desa Swakarya (transisi) 
         Desa Swakarya yaitu desa yang keadaanya sudah lebih maju dibandingkan desa swadaya. Masyarakatnya sudah mampu menjual kelebihan hasil produksi ke daerah lain. Interaksi dengan desa lain sudah ada. 

c. Desa Swasembada (modern)
         Desa swasembada adalah desa yang sudah mampu mengembangkan semua potensi yang dimiliki secara optimal.

3. Klasifikasi Desa Berdasarkan Potensi 


a. Desa berpotensi tinggi
b. Desa berpotensi sedang
c. Desa berpotensi rendah

          Desa-desa yang berdekatan dengan kota mengalami perkembangan yang lebih cepat dibandingkan dengan desa lainnya. Daerah pedesaan diperbatasan kota yang mudah dipengaruhi oleh tata kehidupan kota yang disebut dengan urban areas atau daerah desa-kota. Daerah ini merupakan sub-urban fringe, yaitu suatu area yang melingkari urban (kota) sebagai daerah peralihan antara daerah rural (desa) dan daerah kota. 

          Daerah pedesaan memiliki peranan yang sangat penting dalam perkembangan daerah perkotaan. Desa merupakan penyangga (hinterland) kota, terutaman sebagai daerah penyedia bahan pangan untuk penduduk perkotaan dan penyedia tenaga kerja bagi pembangunan fisik di daerah perkotaan. selain itu, hasil industri rumahan kecil atau kerajinan produksi desa dapat dipasarkan di daerah perkotaan. 

B. POLA KERUANGAN KOTA

spasial desa dan kota www.geniusmart.net
Salah Satu Kota Terindah Di Dunia (Sumber : www.topdidunia.com)

1. Pengertian Kota 


Bintarto (1983) berpendapat bahwa kota merupakan sebuah bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alamiah dan nonalamiah, dengan gejala pemusatan penduduk yang cukup besar dan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis dibandingkan dengan daerah belakangnya (hinterland).

Kota Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1987 Pasal 1 merupakan pusat pemukiman dan kegiatan penduduk yang mempunyai batasan administrasi yang diatur dalam perundang-undangan serta pemukiman yang telah memperlihatkan watak dan ciri kehidupan perkotaan.

Menurut Daldjoeni (1996) kota adalah suatu daerah tertentu dengan karakteristik penggunaan lahan nonagraris, dimana penggunaannya lahannya sebagian besar tertutup oleh bangunan.

        Pola jaringan jalan di daerah kota lebih kompleks dan penggunaan lahan sebagian besar oleh bangunan baik gedung maupun pemukiman penduduk dibandingkan dengan penggunaan lahan untuk wilayah terbuka hijau.

        Istilah kota dan daerah perkotaan dibedakan atas dua pengertian, yaitu city dan urban. Istilah city diidentikkan dengan kota, sedangkan urban adalah suatu daerah yang memiliki suasana kehidupan dan penghidupan modern disebut juga perkotaan.

Ciri Masyarakat perkotaan antara lain dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus tergantung pada orang lain, pembagian kerjanya lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata, lebih menghargai waktu, pola pikir yang rasional menyebabkan interaksi sosial lebih berdasarkan pada kepentingan (gesselschaft) daripada faktor pribadi. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata, karena kebudayaan kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh-pengaruh dari luar.

2. Klasifikasi Kota


Menurut Yunus (2005) Kota dapat dibedakan berdarkan fungsinya, bentuk fisiknya, dan pola pertumbuhannya.

Menurut fungsinya kota dibedakan sebagai berikut.


  • Pusat Industri, misalnya Detroid dengan industri mobilnya, Cilegon dengan industri besi bajanya, dan Bombay dengan industri tekstilnya. 
  • Pusat Perdagangan, Contohnya New York, Hamburg, Hongkong, dan Singapura. 
  • Pusat Pemerintah, Contohnya Jakarta (Ibukota Indonesia), New Delhi (Ibukota India), Dan Canberra (Ibukota Australia)
  • Pusat Kebudayaan, contohnya Yogyakarta, Denpasar, dan Mekkah
  • Pusat rekreasi, contohnya Pangandaran dengan pantainya yang indah. 
  • Pusat pendidikan, misalnya Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta. 
Menurut Bentuk Fisiknya Kota Dibedakan Atas : 

  • Kota yang berbentuk Bujur Sangkar (the square cities) terbentuk karena adanya kegiatan yang relatif seragam seperti pertanian. Contohnya, Indianapolis, dan Yogyakarta. 
spasial desa dan kota www.geniusmart.net

  • Kota yang berbentuk empat persegi panjang (the rectangular cities), pada dasarnya sama seperti kota yang terbentuk bujur sangkar hanya saja pada kedua sisinya terdapat hambatan alami seperti topografi, hutan, atau gurun. 
spasial desa dan kota www.geniusmart.net

  • Kota yang berbentuk seperti kipas (the fan shapped cities), pusat kota berada pada daerah pinggiran seperti Chicago, Jakarta, dan Boston.
spasial desa dan kota www.geniusmart.net

Berdasarkan pola pertumbuhannya kota dibedakan atas : 
  • Stadium pembentukan inti kota (nuclear phase), ditandai dengan dirintisnya pembangunan gedung-gedung utama seperti gedung pemerintahan, pasar, sekolah
  • Stadium formatif (formatif phase), sudah ditandai dengan perkembangan industri, transportasi, dan perdagangan. Kenampakan fisik kotanya menyerupai seperti bintang atau gurita (star shaped atau octopus shaped)
  • Staduim Modern (modern phase), ditandai makin majunya sarana transportasi dan komunikasi. kenampakan fisik kotanya sudah sangat kompleks dengan ditandai adanya penggabungan dengan pusat-pusat kegiatan lainnya. Contohnya kota Sidney
Berdasarkan Pertumbuhan kota dan sosio kulturalnya lewis mumford (dalam Hadi Sabari Yunus, 2005) membedakan kota menjadi enam tahap, yaitu sebagai berikut. 
  • Eopolis Stage, dicirikan adanya komunitas masyarakat  desa yang makin maju, walaupun kondisi kehidupannya masih di dasarkan pada kegiatan pertanian, pertambangan, dan perikanan. Tahap ini merupakan peralihan dari pola kehidupan kota tradisional ke arah kehidupan kota. 
  • Polis Stage, ditandai dengan adanya pasar dan beberapa kegiatan industri yang cukup besar tetapi masih berorientasi pada sektor pertanian.
  • Metropolis Stage, kenampakan kekotaan sudah mulai besar. Fungsi-fungsi perkotaanya terlihat mendominasi kota-kota kecil lainnya yang berada di sekitar kota tersebut. Pada tahap ini sebagian besar penduduk berorientasi pada sektor industri. 
  • Megapolis Stage, ditandai adanya tingkah laku manusia yang hanya berorientasi pada materi saja.
  • Tyranopolis Stage, yaitu suatu keadaan ketidakpedulian masyarakatnya mengenai segala aspek kehidupan mewarnai tingkah laku penduduknya.
  • Nekropolis Stage, yaitu keadaan kota yang menunjukkan gejala kemunduran sumber daya alam yang mulai habis, terjadinya perpindahan penduduk yang besar akibat adanya bencana alam bahkan peperangan. 
Interaksi Desa dan Kota www.geniusmart.net
Surabaya adalah salah satu contoh Kota Metropolis (sumber : www.skyscrapercity.com)

Berdasarkan Hierarki politik administratif kota dibedakan atas : 

        a. Kota Kecamatan
        b. Kota Kabupaten
        c. Kota Provinsi
        d. Ibukota Negara

         Tidak semua kota memiliki fungsi tunggal, artinya hanya memiliki satu fungsi. Banyak sekali kota yang memiliki beberapa fungsi, bahkan hampir semua kota-kota yang terdapat di Indonesia memiliki beberapa fungsi, misalnya Jakarta selain sebagai pusat pemerintahan tetapi juga sebagai pusat perekonomian, politik, pendidikan, dan kebudayaan. 

3. Struktur Kota


Suatu Kota selalu mengalami perkembangan struktur internnya, baik karena pengaruh urbanisasi, pertambahan penduduk alami, maupun peningkatan di bidang teknologi. Menurut Yunus (2006) terdapat banyak teori mengenai struktur kota, antara lain teori kosentris, teori ketinggian bangunan, teori sektor, teori konsektoral, teori poros, dan teori pusat kegiatan banyak. 

a. Teori Kosentris ( Concentric Theory)

Teori ini dikembangkan oleh Ernest W. Burgess (1925) yang mengatakan, bahwa suatu kota akan terdiri atas zona-zona yang kosentris dan masing-masing zona mencerminkan tipe penggunaan lahan yang berbeda.
spasial desa dan kota www.geniusmart.net

Keterangan :
  1. Zona pusat kegiatan (Central Businnes District (CBD)) Merupakan pusat kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Rute-rute transport dari segala penjuru memusat ke zona ini sehingga memiliki aksesibilitas yang tinggi. 
  2. Zona peralihan (Transision Zone) merupakan kawasan peralihan yang di dalamnya terdapat industri, perkantoran dan pertokoan. Di Zona ini merupakan daerah yang mengalami penurunan kualitas lingkungan pemukiman yang terdapat kawasan kumuh (slum area) dan ghettoes (penampungan para pendatang baru dan penghuni sementara). Oleh karena itu, di zona ini banyak terdapat kriminalitas dan kemiskinan. 
  3. Zona perumahan para pekerja (Zona Of Working Men's Homes). Zona ini paling banyak ditempati oleh perumahan pekerja-pekerja pabrik dan industri. 
  4. Zona pemukiman yang lebih baik (Zone Of Better Residences). Zona ini dihuni oleh penduduk yang berstatus ekonomi menengah sampai tinggi. Kondisi ekonomi umumnya stabil sehingga lingkungan pemukimannya menunjukkan derajat keteraturan yang cukup tinggi. 
  5. Zona Pemukiman kelas tinggi. Membentuk jalur memanjang memotong pemukiman kelas ekonomi sedang. 
Amsterdam adalah kota yang memiliki model konsentris


B. Teori Sektor 

Teori ini dikembangkan oleh Homer Hoyt (1939). Model sektor ini merupakan hasil penelitiannya mengenai pola-pola sewa rumah tinggal (residential rent pattern) di 25 kota di Amerika Serikat. Hoyt mengatakan ternyata pola sewa tempat tinggal pada kota-kota di Amerika serikat cenderung berbentuk sebagai pattern of sector (pola sektor-sektor) Bukan pola konsentris.

spasial desa dan kota www.geniusmart.net

Hoyt mengatakan (berdasarkan gambar) bahwa kota terdiri dari : 
  1. zona pusat daerah kegiatan 
  2. zona terdapat grosir dan manufaktur
  3. zona daerah pemukiman kelas rendah. pemukiman penduduk yang tingkat ekonominya rendah terdapat di semkitar CBD dan perindustrian
  4. zona pemukiman kelas menengah. Berkembang di daerah yang agak jauh dari pusat kota
  5. zona pemukiman kelas tinggi. membentuk jalur memanjang memotong pemukiman kelas ekonomi sedang
C. Teori Konsektoral (Konsentris-Sektoral)

         Mann (1965) menggabungkan antara pandangan konsentris dan sektoral, namun penekanan konsentris jauh lebih menonjol. Model ini diciptakan atas dasar penelitiannya pada kota-kota di Inggris.

spasial desa dan kota www.geniusmart.net


D. Teori Pusat Kegiatan Banyak (Multiple Nuclai Theory)

Teori ini pertama kali dikemukakan oleh C.D.Harris dan F.L. Ullman (1945). Mereka mengatakan bahwa kebanyakan kota-kota besar tidak tumbuh dan pola keruangan yang sederhana, yang hanya ditandai oleh suatu pusat kegiatan saja (unicentered theory) namun terbentuk berlanjut terus menerus dari sejumlah pusat-pusat kegiatan yang terpisah satu sama lain.

        Mereka menjelaskan bahwa pertumbuhan kota bermula dari suatu pusat menjadi pertumbuhan wilayah yang kompleks. Hal ini disebabkan oleh munculnya pusat-pusat tambahan yang masing-masing akan berfungsi menjadi kutub pertumbuhan.

       Tempat-tempat yang bertipe nucleus (berdiri antara lain pelabuhan udara, kompleks industri, perguruan tinggi, dan pelabuhan laut. Inti berganda dalam suatu kota mencerminkan perkembangan kota secara horizontal. Pusat kota tidak harus ditengah, tetapi berkembang seiring dengan penyebaran pemukiman penduduk. Akibatnya, mobilitas warga semakin efisien sehingga kemacetan lalu lintas semakin berkurang.)

spasial desa dan kota www.geniusmart.net

Keterangan :

  1. central bussines distric, zona ini pusat fasilitas transportasi, perbankan, dan teater
  2. whole-sale light manufacturing, fungsi ini banyak mengelompok di sepanjang jalan kereta api dan dekan dengan CBD
  3. low-class residential (daerah pemukiman kelas rendah)
  4. medium class residential (daerah pemukiman kelas menengah)
  5. hight class residential (daerah pemukiman kelas tinggi)
  6. heavy maufacturing, merupakan konsentrasi pabrik-pabrik besar
  7. Outying bussines district (OBD), zona baru untuk memenuhi kebutuhan penduduk zona 4 dan 5
  8. residential sub-urb, zona tempat tinggal di daerah pinggiran
  9. industrial sub urb, zona industri di daerah pinggiran
E. Teori Poros 

Teori Poros dikemukakan Oleh Babcock (1932), yang menekankan pada peranan transportasi dalam memengaruhi struktur keruangan kota. teori poros dapat di jelaskan melalu gambar di bawah ini. 

spasial desa dan kota www.geniusmart.net

F. Teori Historis 

Dalam Teori Historis, alonso mendasarkan analisisnya berdasarkan kenyataan historis yang berkaitan dengan perubahan tempat tinggal penduduk di dalam kota. Teori Historis dapat dilihat melalu gambar berikut. 

spasial desa dan kota www.geniusmart.net



C. URBANISASI 


        Urbanisasi adalah proses perpindahan penduduk dari desa ke kota dengan tujuan menetap. Urbanisasi dapat terjadi karena ada faktor penarik dan faktor pendorong, antara lain sebagai berikut.

a. Faktor Penarik Urbanisasi

  1. Upah kerja di Kota lebih tinggi
  2. kota banyak menyediakan lapangan pekerjaan mulai dari tenaga kasar hingga profesional
  3. fasilitas pelayanan sosial mudah di dapatkan seperti pendidikan, kesehatan, pekerjaan.
  4. kota memiliki gaya relatif bebas dibanding desa
  5. sarana transportasi mudah didapat
b. Faktor Pendorong Urbanisasi
  1. kurangnya lapangan pekerjaan
  2. upah di desa relatif murah
  3. tidak tersediannya fasilitas pelayanan sosial di desa
  4. adat istiadat desa sangat mengekang dan membuat masyarakat tidak berkembang
  5. motif ingin menacari pengalaman
Adapun Dampak Dari Urbanisasi bagi kota maupun Dampak Urbanisasi bagi desa antara lain sebagai berikut.

a. Dampak Positif Urbanisasi bagi desa : 
  1. kesejahteraan penduduk desa meningkat, karena penduduk yang berhasil di kota akan mengirimkan uang ke desa
  2. munculnya penduduk desa yang punya pendidikan tinggi, karena ada sebagian penduduk yang sekolah pada perguruan tinggi di kota. 
  3. adanya alih teknologi. Penduduk desa yang di kota akan memberikan pengetahuannya kepada penduduk desa tentang teknologi yang sudah  berkembang di kota
  4. adanya perhatian dari pemerintah untuk membangun desa supaya pemerintah bisa sukses untuk menghambat laju urbanisasi
  5. adanya industri kecil dan keluarga yang berkembang di desa, karena penduduk kota yang kembali ke desa, dimana pengetahuan kerajinan itu dia dapatkan sebelumnya di kota. 
b. Dampatk Negatif Urbanisasi bagi desa
  1. desa menjadi sepi dan kekurangan tenaga kerja karena penduduknya pindah ke kota
  2. pembangunan desa menjadi terhambat karena kekurangan SDM yang berkualitas
  3. banyaknya fasilitas dan potensi desa yang terbengkalai. misalnya, aliran irigasi menjadi tidak berguna karena banyak sawah yang tidak ditanami, karena petani nya pindah ke kota. 
  4. industri kecil dan industri rakyat menjadi tidak berkembang baik 
  5. fasilitas pendidikan dan kesehatan juga tidak bisa berkembang karena keengganan guru dan dokter untuk bekerja di desa
c. Dampak Positif Urbanisasi bagi kota
  1. kota mendapat tenaga kerja yang melimpah, karena banyak penduduk desa yang ke kota. Tenaga kerjad tersebut biasanya murah dan bisa bekerja secara fisik
  2. penduduk kota yang banyak menyebabkan perdagangan yang besar. Hal ini disebabkan karena penduduk itu merupakan potensi konsumen yang baik untuk memasarkan produk-produk hasil produksi, makannya banyak kita temua supermarket atau mall
  3. pembangunan kota menjadi lebih cepat, karena dukungan sumber daya manusia yang melimpah pada semua sektor kehidupan.
  4. munculnya banyak sekolah dan perguruan tinggi yang berkualitas, karena persaingan yang begitu ketat
  5. Industri berkembang dengan baik, hal ini dikarenakan banyak tenaga kerja dan konsumen yang ada di kota
d. Dampak Negatif Urbanisasi bagi desa
  1. Banyaknya pengangguran yang ada di kota, karena penduduk desa yang berurbanisasi  mempunyai kualitas yang rendah, sehingga tidak mampu bersaing di kota
  2. munculnya tindak kriminal. ini adalah akibat negatif dari pengangguran. sehingga banyak orang yang gelap mata untuk melakukan tindakan yang tidak terpuji untuk memenuhi kebutuhan
  3. pemukiman kumuh yang semakin banyak dibangun dibantaran sungai sehingga menimbulkan banjir dan rendahnya mutu kesehatan
  4. kemiskinan yang meningkat drastis di kota karena banyak orang tidak mendapat pekerjaan
  5. kota semakin padat dan jalanan menjadi sangat mecet sehingga mobilitas penduduk kota menjadi terganggu. 


D. INTERAKSI DESA DENGAN KOTA DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI DAERAH


        Menurut Ullman (Bintarto, 1983) pergerakan manusia, barang, jasa maupun informasi (interaksi antar wilayah) disebabkan oleh tiga faktor yaitu sebagai berikut.

1. Saling Melengkapi (komplemen)

hubungan yang saling melengkapi dikarenakan perbedaan dalam ketersediaan dan kemampuan sumber daya dalam suatu wilayah. Di satu pihak ada wilayah yang kelebihan sumber daya sedangkan pada wilayah lain kekurang sumber daya. Keadaan ini mendorong terjadinya interaksi yang didasarkan saling membutuhkan. Semakin besar komplementaritas semakin besar pula arus barang, maupun informasi.

spasial desa dan kota www.geniusmart.net

2. Kesempatan Untuk Saling Berintervensi (Intervening Opportunity)

Kesempatan untuk saling berintervensi adalah suatu alternatif perantara yang dapat menghambat timbulnya interaksi antarwilayah atau dapat menimbulkan suatu persaingan.

spasial desa dan kota www.geniusmart.net


Interaksi antar kota meliputi interaksi antar manusia yang memiliki kebutuhan yang berlainan. Jenis interaksi dalam geografi antara lain :

  1. Interaksi keruangan bersifat ekonomis, misalnya penjual dan pembeli
  2. interaksi keruangan bersifat politis, misalnya para pendukung partai politik
  3. interaksi keruangan yang bersifat sosial, misalnya program KB atau hidup hemat
  4. interaksi keruangan yang bersifat manusia-lingkungan (ekologis), misalnya hubungan manusia dengan alam sekitarnya. 
  5. interaksi keruangan yaitu hubungan antar manusia dengan manusia atau manusia dengan lingkungannya, misalnya manusia di kota dengan manusia di desa, interaksi keruangan meliputi gejala relokasi, distribusi, dan difusi.
3. Kemudahan Pemindahan Dalam Ruang 

Selain membutuhkan waktu dan biaya, gerak manusia, barang ataupun informasi untuk kelancarannya membutuhkan peraturan dan tata tertib pelaksanaannya, yang disebut transferbilitas. semakin mudah transferbilitas semakin besar gerak barang, manusia, maupun informasi. kemudahan pemindahan dalam ruang bergantung pada : 
  1. jarak mutlak dan jarak relatif antara tiap-tiap waktu 
  2. biaya transportasi
  3. kemudahan dan kelancaran prasarana transportasi antar wilayah. 


E. PERKEMBANGAN KOTA DAN MASALAH ALIH FUNGSI LAHAN


Suatu kota akan terus mengalami perkembangan pembangunan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan penduduk untuk hidup layak. Menurut Yunus (2005) terdapat tiga gerakan sentripetal, sentrifugal, dan lateral (gerakan ulak-alik)

1. Gerakan Penarik (Sentripetal)

Gerakan sentripetal adalah gerakan penduduk dari daerah pinggiran kota atau desa menuju kota. Gerakan ini disebabkan oleh faktor penarik dari kota

2. Gerakan Pendorong (Sentrifugal)

Gerakan sentrifugal gerakan penduduk dari kota menuju desa. gerakan ini disebabkan oleh faktor pendorong dari kota.

3. Gerakan Ulak-Alik (lateral)

Meningkatnya kebutuhan lahan dan terbatasnya lahan di pusat kota maka kegiatan penduduk berkembang ke daerah pinggiran kota. Daerah pinggiran kota disebut urban fringe area

F. PERBEDAAN DESA DAN KOTA 

perbedaan desa dan kota

G. MENENTUKAN INTERAKSI ANTARA 2 WILAYAH


Interaksi Antara 2 wilayah dapat ditentukan dengan beberapa rumus.

a. Rumus Gravitasi
         Rumus Gravitasi Newton untuk menghitung besarnya Interaksi antara wilayah A dan B
I (a,b) = [ {P(a) x P(b)} : {D (a,b) x D (a,b)} ]
[Interaksi Antar wilayah A dan B = (Jumlah penduduk A x Jumlah Penduduk B) : (Jarak kedua Wilayah Kuadrat]

Keterangan :

I (a,b)   : Interaksi Antara Wilayah A dan B
P (a)     : Jumlah Penduduk A
P (b)     : Jumlah Penduduk B
D (a,b) : Jarak Antara A dan B

b. Rumus Titik Henti (Teori Titik Henti) untuk menentukan lokasi untuk usaha ekonomi, sarana kesehatan, dan sarana pendidikan.

Keterangan :

TH ab  : Jarak lokasi titik henti di ukur dari wilayah dengan jumlah penduduk lebih kecil
Dab     : Jarak antara wilayah A dan B
Pa       : Jumlah Penduduk yang lebih besar (penduduk A)
Pb       : Jumlah Penduduk yang lebih kecil  (penduduk B)

c. Teori Grafik (Indeks Konektivitas)

Keterangan :

B  : indeks konektivitas
e   : Jumlah jaringan jalan
v   : Jumlah kota pada suatu wilayah yang dihubungkan oleh jaringan jalan
Tak perlu mengcopy isi artikel GeniuSmart "TOP MATERI Interaksi Spasial Desa Dan Kota". Cukup Download Materi dengan Klik tombol Download di Bawah ini. 

THANKS TO :

1. www.suaradesa.timesindonesia.co.id
2. https://plus.google.com/s/%23Pertanian/top
3. www.topdidunia.com
4. www.imazu.wordpress.com
5. www.kurikulum.sman9-mlg.sch.id
6. www.id.wikipedia.org
7. www.ssbelajar.blogspot.com
8. www.marniarch.blogspot.co.id/2013_11_01_archive.html
9. http://rizaldyberbagidata.blogspot.co.id/2012/07/bentuk-bentuk-kota-pendekatan-morfologi.html
10. www.perpustakaancyber.blogspot.com
11. Buku siswa aktif dan kreatif belajar. penerbit Grafindo Media Pratama. Penulis : lili somantri, Nurul huda. Anggota IKAPI, Cetakan I, 2015

Subscribe Gratis dan Dapatkan Informasi Artikel Pendidikan Terupdate:

7 Responses to "TOP MATERI Interaksi Spasial Desa Dan Kota (Definisi, Pola, Struktur)"

  1. Oke bookmark gan. terima kasih. sangat bermanfaat.

    ReplyDelete
  2. ijin download yahhh :) materinya sangat lengkap.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Dapatkan Informasi Terupdate Melalui Email